Prabu Yudistira raja negara Amarta dan putra tertua Prabu
Pandudewanata. Pada masa mudanya bernama Puntadewa.Yudistira orang yang sabar
sekali, hingga dikatakan orang ia berdarah putih, karena tak pernah marah.
Karena sifatnya itu, Yudistira terjauh dan bahaya.Yudistira mempunyai pusaka
bernama surat Kalimahusada yang berkesaktian menjauhkan seteru, menyelamatkan
diri dan lain-lain. Sebaliknya surat itu bisa berbahaya bagi siapa yang
bermaksud jahat terhadap Kalimahusada. Tetapi di dalam lakon surat itu pernah
dikuasai orang dan menjadi jayalah dia.Yudistira tak pernah berperang di dalam
Baratayuda. Ia diangkat sebagai pahlawan, tetapi ia menjengkelkan
saudara-saudaranya, oleh karena segan melawan musuhnya. Maka terpaksa ia
dibantu oleh Arjuna yang dengan anak panahnya mendorong anak panah yang
dilepaskan oleh Yudistira, hingga musuh itu dapat dikalahkannya.Yudistira dan
saudara-saudara Pendawa lainnya menemui ajal dengan sempurna sehabis perang
Baratayuda. Prabu Yudistira bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka tenang,
lebih tenang daripada masa mudanya, sewaktu masih bernama Puntadewa. Bergelung
keling, bersunting waderan. Sesudah bertakhta sebagai raja, segala pakaian
serba keemasan dan segala permatanya dibuangnya. Maka ia adalah seorang raja
yang sangat bersahaja. Prabu Yudistira berwanda: 1. Putut, 2. Manuksma, 3.
Jimat dan 4. Deres.
Nurhanif S M
Nguri-uri kabudayan
Friday, January 20, 2012
Wednesday, January 18, 2012
RADEN GATOTKACA
Raden Gatotkaca putra Raden Wrekodara yang kedua dari
perkawinannya dengan putri raksasa, Dewi Arimbi dari negara Pringgadani. Waktu
dilahirkan, Gatotkaca berupa raksasa. Karena sangat saktinya, dengan senjata
apa pun tali pusatnya tak dapat dipotong. Akhirnya tali pusat dapat juga
dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu
masuk ke dalam perut Gatotkaca dan semakin menambah kesaktiannya. Atas kehendak
para Dewa, bayi Gatotkaca dimasak menjadi bubur dan diisi dengan berbagai
kesaktian. Oleh karena itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi,
berdarah gala-gala dapat terbang di angkasa dan duduk di atas awan yang
melintang. Kecepatan Gatotkaca terbang seperti kilat dan liar seperti
halilintar. Kesaktiannya di dalam perang adalah kemampuannya untuk mencabut
leher musuhnya, tetapi ini hanya dilakukannya, jika keadaan mendesak. Gatotkaca
diangkat menjadi raja negara Pringgadani dan dia disebut juga ksatria
Pringgadani, oleh karena pemerintahan di negara itu hanya dijalankan oleh
seorang keturunan dari pihak perempuan. Di dalam perang Baratayuda Gatotkaca
tewas oleh senjata Kunta yang oleh Karna ditujukan padanya, ketika ia bersembunyi
di balik awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan tepat mengenai kendaraan Karna
hingga hancur lebur karenanya. Gatotkaca beristrikan saudara sepupu, Dewi
Pregiwa, putri Raden Arjuna. Menurut riwayat, Raden Gatotkaca mati dalam usia
muda, hingga sangat disesalkan oleh segenap keluarganya. Gatotkaca bermata
telengan (membelalak), berhidung dempak, berkumis dan berjenggot. Berjamang
tiga suun, bersunting waderan, bersanggul kadal menek, bergaruda membelakang,
berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain
kerajaan lengkap. Mengikuti kata-kata dalang, sewaktu Raden Gatotkaca akan
mengawan, disampaikanlah ucapan benikut: Tersebutlah pakaian Gatotkca yang juga
disebut ksatria Pringgadani: Berjamang emas tiga susun yang berkilau-kilau,
bersunting emas bentuk kembang kenanga yang dikarangkan berupa surengpati
(berani mati). Sunting serupa dipakai juga oleh seorang murid, waktu menerima
ilmu dari gurunya, yakni ilmu tentang mati yang bisa membikin Si penerima ilmu
tak takut mati. Bersanggul bentuk sepit udang tersangga oleh praba, tertusuk
konde emas bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir,
berpontoh raja naga, bergelang kana (gelang segi empat). Berkain kampuh sutera
jingga (merah tua), dibatik
Saturday, January 14, 2012
KRESNA DUTA

Perang
Baratayuda dapat dianggap sebagai akibat daripada perselisihan antara Pendawa
dan Korawa, yang kedua-duanya berdarah Barata. Maka itupun perangnya disebut
Baratayuda, yakni perang antara orang-orang berdarah Barata. Sebab perang
Baratayuda ialah adanya perebutan antara Pendawa dan Korawa mengenai Astina,
negara leluhur mereka. Pada mulanya Pendawa memang mendapat janji akan menerima
sebagian dari Astina, tetapi oleh karena Pendawa belum dewasa, pembagian
ditangguhkan sampai Pendawa sudah dewasa. Lama-kelamaan pihak Korawa merasa
seperti kata peribahasa mengulum gula. Karena terasa manis, akhirnya merasa
sayang untuk mengeluarkannya dan mulut. Hingga beberapa kali Pendawa meminta
bagiannya, tetapi tidak berhasil.Karena Astina bertangguh tak berkesudahan,
maka datanglah Sri Kresna untuk meminta dengan kekerasan, tetapi Astina tak mau
berobah sikap dan dengan singkat mengatakan takkan mau melepaskan separo
daripada negara Astina. Jawab ini disertai dengan mengadakan
persiapan-persiapan untuk berperang. Setelah mengetahui sikap Astina itu,
Pendawa pun bersiap-siap. Dan Pecahlah perang Baratayuda. Sebelum perang ini
terjadi, para pemimpin
PRABU KRESNA
PRABU KRESNA
yang waktu mudanya bernama Narayana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara
Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah (Jawa). Prabu Kresna lahir
kembar bersama kakaknya, Kakrasana, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi
Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi
Badrahini.
Prabu Kresna juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura. Prabu Kresna adalah titisan Sanghyang Wisnu yang terakhir. Selain sangat sakti dan dapat bertiwikrama, ia juga mempunyai pusaka-pusaka sakti, antara lain; Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, Terompet/Sangkala Pancajahnya, Kaca paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.
Prabu Kresna mendapat negara Dwarawati setelah mengalahkan Prabu Narasinga, kemudian naik tahta bergelar Prabu Sri Bathara Kresna.
Prabu Kresna mempunyai 4 (empat) orang permaisuri :
Prabu Kresna juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura. Prabu Kresna adalah titisan Sanghyang Wisnu yang terakhir. Selain sangat sakti dan dapat bertiwikrama, ia juga mempunyai pusaka-pusaka sakti, antara lain; Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, Terompet/Sangkala Pancajahnya, Kaca paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.
Prabu Kresna mendapat negara Dwarawati setelah mengalahkan Prabu Narasinga, kemudian naik tahta bergelar Prabu Sri Bathara Kresna.
Prabu Kresna mempunyai 4 (empat) orang permaisuri :
1.Dewi
Jembawati, putri Resi Jembawan dengan Dewi Trijata dari
pertapaan Gadamadana, berputra ; Samba dan Gunadewa (berwujud
kera).
pertapaan Gadamadana, berputra ; Samba dan Gunadewa (berwujud
kera).
2.Dewi
Rukmini, putri Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma dengan Dewi
Rumbini dari negara Kumbina, berputra: Saradewa (berwujud
raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari.
Rumbini dari negara Kumbina, berputra: Saradewa (berwujud
raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari.
3.Dewi
Setyaboma, putri Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dengan Dewi
Wersini, dari negara Lesanpura, berputra ; Arya Setyaka.
Wersini, dari negara Lesanpura, berputra ; Arya Setyaka.
4.Dewi
Pratiwi, istri turunan sebagai titisan Sanghyang Wisnu, putri
Nagaraja dari Sumur Jalatunda, berputra ; Bambang Sitija dan Dewi
Siti Sundari.
Setelah meninggalnya Prabu Baladewa/Resi Balarama, kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Prabu Kresna wafat dalam keadaan bertapa dengan perantaraan panah seorang pemburu bernama Ki Jara yang mengenai kakinya.
Nagaraja dari Sumur Jalatunda, berputra ; Bambang Sitija dan Dewi
Siti Sundari.
Setelah meninggalnya Prabu Baladewa/Resi Balarama, kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Prabu Kresna wafat dalam keadaan bertapa dengan perantaraan panah seorang pemburu bernama Ki Jara yang mengenai kakinya.
Friday, January 13, 2012
BEGAWAN MINTARAGA
Mintaraga ialah Arjuna pada waktu bertapa mengasingkan diri.
Minta berarti memisah, raga berarti badan kasar. Jadi waktu itu Arjuna
menjernihkan pikiran, supaya bisa berpisah dengan badan kasarnya. Kehendak
Arjuna ialah supaya jaya kelak di dalam perang Baratayuda. Umumnya orang
bertapa mendapat godaan dari setan-setan, agar gagallah tapanya Di dalam cerita
ini ada seorang raja raksasa, Prabu Niwatakawaca, dari negara Ima-imantaka.
Raja ini ingin meminang seorang bidadari di Suralaya, Dewi Supraba, tetapi
keinginannya itu ditentang oleh Hyang Endra. Oleh sebab itu, murkalah Prabu
Niwatakawaca dan bermaksud merusak kaendran (tempat kediaman Betara Endra). Ketika
terjadi penistiwa mi, Arjuna sedang bertapa di bukit Endrakila dengan nama
Begawan Mintaraga. Tapa Arjuna itu membikin khawatir Hyang Endra, oleh karena
itu ia bermaksud minta bantuan Arjuna untuk melawan Niwatakawaca yang hendak
menempuh Kaendran. Maka Betara Endra pun bertitah kepada para Bidadari untuk
menggoda Arjuna agar batallah tapanya. Teapi para penggoda tak berhasil
membatalkan tapa Arjuna, malahan sebaliknya mereka merindukan Arjuna. Setibanya
di pertapaan, raksasa Mamangmurka merusak pertapaan itu. Melihat perbuatan itu,
Arjuna menyumpahi Mamangmurka dan berkata, “lingkah laku raksasa ini seperti
babi hutan dan seketika Mamangmurka pun berganti rupa menjadi babi hutan,
diikuti oleh Hyang Endra yang menyaru menjadi pendeta bernarna Resi Padya dan
yang berkehendak membunuh babi hutan itu. Ia melepaskan anak panahnya yang
mengenai babi hutan tersebut. Tetapi Arjuna pun mengikuti, memanah dan mengenai
juga babi hutan itu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan Betara Endra
mengenai siapa sebenarnya yang
SEMAR (BETARA ISMAYA)
SEMAR (BETARA ISMAYA)
Semar (Betara Ismaya) seorang Dewa, saudara Betara Manikmaya
(Guru), anak Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal menganggap Semarlah yang
tua dan meramalkan dia takkan bisa bergaul dengan para Dewa dan bertitah,
supaya ia tinggal di dunia untuk mengasuh keturunan Dewa-dewa yang berwujud dan
bersifat manusia. Sesudah Semar tinggal di Marcapada (dunia), berobahlah
parasnya yang elok menjad sangat jelek Segala tanda kejelekan pada tubuh
manusia terdapat pada Semar, sehingga Semar dianggap sebagai manusia biasa
saja. Semar selalu mengikuti dan mengemong keturunan Dewa yang bernama Pendawa.
Semar berwatak sabar, pengasih, penyayang dan tak pernah susah. Tetapi kalau
dia sudah marah, tak ada seorang pun
yang bisa mencegahnya dan Dewa-dewa pun dianggapnya lebih rendah daripada
telapak kakinya. Tanda-tanda pada waktu ia marah ialah bercucurnya air matanya,
mengalir dengan derasnya ingusnya dan keluar tak berhenti-berhentinya
kentutnya, selagi ia berteriak-teriak kepada Dewa, meminta kembali kebagusan
rupanya.Semar selalu merendahkan diri terhadap anak-anak asuhannya dan
berbahasa lemah-lembut sebagaimana layaknya seorang hamba, bila bercakap-cakap
dengan tuannya. Tetapi jika bergaul dengan para Dewa, ia bersikap seperti
menghadapi orang-orang sejajarnya. Semar beristrikan Dewi Kanastren dan
mempunyai sepuluh orang anak yang semuanya adalah Dewa. Semar melambangkan
akhlak manusia sesejati-sejatinya. Semar bermata rembesan (sakit mata),
berhidung nyunti (seperti umbi selederi), bibir bawah mulutnya agak panjang,
berjambul, berpusar burut, bergelang, kedua tangannya bisa digerakkan, tetapi
selalu dibelakangkan. Berpantat besar menjolok ke belakang. Semar cengeng,
gampang menangis. Kalau ksatria yang diiringkannya menghadapi bahaya,
menangislah ia, tetapi menangisnya berlagu dengan menggunakan wangsalan,
berkata-kata samar-samar dan mengandung arti seperti misalnya dalam kata-kata:
roning mlinjo (nama daun mlinjo ialah aso).
Thursday, January 12, 2012
Raden Arjuna
ARJUNA adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara. Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa. Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ). Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung). Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ). Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Arjuna memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)





