Friday, January 20, 2012

PRABU YUDISTIRA



Prabu Yudistira raja negara Amarta dan putra tertua Prabu Pandudewanata. Pada masa mudanya bernama Puntadewa.Yudistira orang yang sabar sekali, hingga dikatakan orang ia berdarah putih, karena tak pernah marah. Karena sifatnya itu, Yudistira terjauh dan bahaya.Yudistira mempunyai pusaka bernama surat Kalimahusada yang berkesaktian menjauhkan seteru, menyelamatkan diri dan lain-lain. Sebaliknya surat itu bisa berbahaya bagi siapa yang bermaksud jahat terhadap Kalimahusada. Tetapi di dalam lakon surat itu pernah dikuasai orang dan menjadi jayalah dia.Yudistira tak pernah berperang di dalam Baratayuda. Ia diangkat sebagai pahlawan, tetapi ia menjengkelkan saudara-saudaranya, oleh karena segan melawan musuhnya. Maka terpaksa ia dibantu oleh Arjuna yang dengan anak panahnya mendorong anak panah yang dilepaskan oleh Yudistira, hingga musuh itu dapat dikalahkannya.Yudistira dan saudara-saudara Pendawa lainnya menemui ajal dengan sempurna sehabis perang Baratayuda. Prabu Yudistira bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka tenang, lebih tenang daripada masa mudanya, sewaktu masih bernama Puntadewa. Bergelung keling, bersunting waderan. Sesudah bertakhta sebagai raja, segala pakaian serba keemasan dan segala permatanya dibuangnya. Maka ia adalah seorang raja yang sangat bersahaja. Prabu Yudistira berwanda: 1. Putut, 2. Manuksma, 3. Jimat dan 4. Deres.

Wednesday, January 18, 2012

RADEN GATOTKACA

Raden Gatotkaca putra Raden Wrekodara yang kedua dari perkawinannya dengan putri raksasa, Dewi Arimbi dari negara Pringgadani. Waktu dilahirkan, Gatotkaca berupa raksasa. Karena sangat saktinya, dengan senjata apa pun tali pusatnya tak dapat dipotong. Akhirnya tali pusat dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca dan semakin menambah kesaktiannya. Atas kehendak para Dewa, bayi Gatotkaca dimasak menjadi bubur dan diisi dengan berbagai kesaktian. Oleh karena itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala dapat terbang di angkasa dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca terbang seperti kilat dan liar seperti halilintar. Kesaktiannya di dalam perang adalah kemampuannya untuk mencabut leher musuhnya, tetapi ini hanya dilakukannya, jika keadaan mendesak. Gatotkaca diangkat menjadi raja negara Pringgadani dan dia disebut juga ksatria Pringgadani, oleh karena pemerintahan di negara itu hanya dijalankan oleh seorang keturunan dari pihak perempuan. Di dalam perang Baratayuda Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang oleh Karna ditujukan padanya, ketika ia bersembunyi di balik awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan tepat mengenai kendaraan Karna hingga hancur lebur karenanya. Gatotkaca beristrikan saudara sepupu, Dewi Pregiwa, putri Raden Arjuna. Menurut riwayat, Raden Gatotkaca mati dalam usia muda, hingga sangat disesalkan oleh segenap keluarganya. Gatotkaca bermata telengan (membelalak), berhidung dempak, berkumis dan berjenggot. Berjamang tiga suun, bersunting waderan, bersanggul kadal menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap. Mengikuti kata-kata dalang, sewaktu Raden Gatotkaca akan mengawan, disampaikanlah ucapan benikut: Tersebutlah pakaian Gatotkca yang juga disebut ksatria Pringgadani: Berjamang emas tiga susun yang berkilau-kilau, bersunting emas bentuk kembang kenanga yang dikarangkan berupa surengpati (berani mati). Sunting serupa dipakai juga oleh seorang murid, waktu menerima ilmu dari gurunya, yakni ilmu tentang mati yang bisa membikin Si penerima ilmu tak takut mati. Bersanggul bentuk sepit udang tersangga oleh praba, tertusuk konde emas bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh raja naga, bergelang kana (gelang segi empat). Berkain kampuh sutera jingga (merah tua), dibatik

Saturday, January 14, 2012

KRESNA DUTA




Perang Baratayuda dapat dianggap sebagai akibat daripada perselisihan antara Pendawa dan Korawa, yang kedua-duanya berdarah Barata. Maka itupun perangnya disebut Baratayuda, yakni perang antara orang-orang berdarah Barata. Sebab perang Baratayuda ialah adanya perebutan antara Pendawa dan Korawa mengenai Astina, negara leluhur mereka. Pada mulanya Pendawa memang mendapat janji akan menerima sebagian dari Astina, tetapi oleh karena Pendawa belum dewasa, pembagian ditangguhkan sampai Pendawa sudah dewasa. Lama-kelamaan pihak Korawa merasa seperti kata peribahasa mengulum gula. Karena terasa manis, akhirnya merasa sayang untuk mengeluarkannya dan mulut. Hingga beberapa kali Pendawa meminta bagiannya, tetapi tidak berhasil.Karena Astina bertangguh tak berkesudahan, maka datanglah Sri Kresna untuk meminta dengan kekerasan, tetapi Astina tak mau berobah sikap dan dengan singkat mengatakan takkan mau melepaskan separo daripada negara Astina. Jawab ini disertai dengan mengadakan persiapan-persiapan untuk berperang. Setelah mengetahui sikap Astina itu, Pendawa pun bersiap-siap. Dan Pecahlah perang Baratayuda. Sebelum perang ini terjadi, para pemimpin

PRABU KRESNA



PRABU KRESNA yang waktu mudanya bernama Narayana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah (Jawa). Prabu Kresna lahir kembar bersama kakaknya, Kakrasana, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini.
Prabu Kresna juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura. Prabu Kresna adalah titisan Sanghyang Wisnu yang terakhir. Selain sangat sakti dan dapat bertiwikrama, ia juga mempunyai pusaka-pusaka sakti, antara lain; Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, Terompet/Sangkala Pancajahnya, Kaca paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.
Prabu Kresna mendapat negara Dwarawati setelah mengalahkan Prabu Narasinga, kemudian naik tahta bergelar Prabu Sri Bathara Kresna.
Prabu Kresna mempunyai 4 (empat) orang permaisuri :
1.Dewi Jembawati, putri Resi Jembawan dengan Dewi Trijata dari
pertapaan Gadamadana, berputra ; Samba dan Gunadewa (berwujud
kera).
2.Dewi Rukmini, putri Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma dengan Dewi
Rumbini dari negara Kumbina, berputra: Saradewa (berwujud
raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari.
3.Dewi Setyaboma, putri Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dengan Dewi
Wersini, dari negara Lesanpura, berputra ; Arya Setyaka.
4.Dewi Pratiwi, istri turunan sebagai titisan Sanghyang Wisnu, putri
Nagaraja dari Sumur Jalatunda, berputra ; Bambang Sitija dan Dewi
Siti Sundari.
Setelah meninggalnya Prabu Baladewa/Resi Balarama, kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Prabu Kresna wafat dalam keadaan bertapa dengan perantaraan panah seorang pemburu bernama Ki Jara yang mengenai kakinya.

Friday, January 13, 2012

BEGAWAN MINTARAGA


Mintaraga ialah Arjuna pada waktu bertapa mengasingkan diri. Minta berarti memisah, raga berarti badan kasar. Jadi waktu itu Arjuna menjernihkan pikiran, supaya bisa berpisah dengan badan kasarnya. Kehendak Arjuna ialah supaya jaya kelak di dalam perang Baratayuda. Umumnya orang bertapa mendapat godaan dari setan-setan, agar gagallah tapanya Di dalam cerita ini ada seorang raja raksasa, Prabu Niwatakawaca, dari negara Ima-imantaka. Raja ini ingin meminang seorang bidadari di Suralaya, Dewi Supraba, tetapi keinginannya itu ditentang oleh Hyang Endra. Oleh sebab itu, murkalah Prabu Niwatakawaca dan bermaksud merusak kaendran (tempat kediaman Betara Endra). Ketika terjadi penistiwa mi, Arjuna sedang bertapa di bukit Endrakila dengan nama Begawan Mintaraga. Tapa Arjuna itu membikin khawatir Hyang Endra, oleh karena itu ia bermaksud minta bantuan Arjuna untuk melawan Niwatakawaca yang hendak menempuh Kaendran. Maka Betara Endra pun bertitah kepada para Bidadari untuk menggoda Arjuna agar batallah tapanya. Teapi para penggoda tak berhasil membatalkan tapa Arjuna, malahan sebaliknya mereka merindukan Arjuna. Setibanya di pertapaan, raksasa Mamangmurka merusak pertapaan itu. Melihat perbuatan itu, Arjuna menyumpahi Mamangmurka dan berkata, “lingkah laku raksasa ini seperti babi hutan dan seketika Mamangmurka pun berganti rupa menjadi babi hutan, diikuti oleh Hyang Endra yang menyaru menjadi pendeta bernarna Resi Padya dan yang berkehendak membunuh babi hutan itu. Ia melepaskan anak panahnya yang mengenai babi hutan tersebut. Tetapi Arjuna pun mengikuti, memanah dan mengenai juga babi hutan itu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan Betara Endra mengenai siapa sebenarnya yang

SEMAR (BETARA ISMAYA)

SEMAR (BETARA ISMAYA)
Semar (Betara Ismaya) seorang Dewa, saudara Betara Manikmaya (Guru), anak Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal menganggap Semarlah yang tua dan meramalkan dia takkan bisa bergaul dengan para Dewa dan bertitah, supaya ia tinggal di dunia untuk mengasuh keturunan Dewa-dewa yang berwujud dan bersifat manusia. Sesudah Semar tinggal di Marcapada (dunia), berobahlah parasnya yang elok menjad sangat jelek Segala tanda kejelekan pada tubuh manusia terdapat pada Semar, sehingga Semar dianggap sebagai manusia biasa saja. Semar selalu mengikuti dan mengemong keturunan Dewa yang bernama Pendawa. Semar berwatak sabar, pengasih, penyayang dan tak pernah susah. Tetapi kalau dia  sudah marah, tak ada seorang pun yang bisa mencegahnya dan Dewa-dewa pun dianggapnya lebih rendah daripada telapak kakinya. Tanda-tanda pada waktu ia marah ialah bercucurnya air matanya, mengalir dengan derasnya ingusnya dan keluar tak berhenti-berhentinya kentutnya, selagi ia berteriak-teriak kepada Dewa, meminta kembali kebagusan rupanya.Semar selalu merendahkan diri terhadap anak-anak asuhannya dan berbahasa lemah-lembut sebagaimana layaknya seorang hamba, bila bercakap-cakap dengan tuannya. Tetapi jika bergaul dengan para Dewa, ia bersikap seperti menghadapi orang-orang sejajarnya. Semar beristrikan Dewi Kanastren dan mempunyai sepuluh orang anak yang semuanya adalah Dewa. Semar melambangkan akhlak manusia sesejati-sejatinya. Semar bermata rembesan (sakit mata), berhidung nyunti (seperti umbi selederi), bibir bawah mulutnya agak panjang, berjambul, berpusar burut, bergelang, kedua tangannya bisa digerakkan, tetapi selalu dibelakangkan. Berpantat besar menjolok ke belakang. Semar cengeng, gampang menangis. Kalau ksatria yang diiringkannya menghadapi bahaya, menangislah ia, tetapi menangisnya berlagu dengan menggunakan wangsalan, berkata-kata samar-samar dan mengandung arti seperti misalnya dalam kata-kata: roning mlinjo (nama daun mlinjo ialah aso).

Thursday, January 12, 2012

Raden Arjuna


ARJUNA adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara. Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.  Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana.  Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ). Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.  Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung). Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ). Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Arjuna memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.