Saturday, January 14, 2012

KRESNA DUTA




Perang Baratayuda dapat dianggap sebagai akibat daripada perselisihan antara Pendawa dan Korawa, yang kedua-duanya berdarah Barata. Maka itupun perangnya disebut Baratayuda, yakni perang antara orang-orang berdarah Barata. Sebab perang Baratayuda ialah adanya perebutan antara Pendawa dan Korawa mengenai Astina, negara leluhur mereka. Pada mulanya Pendawa memang mendapat janji akan menerima sebagian dari Astina, tetapi oleh karena Pendawa belum dewasa, pembagian ditangguhkan sampai Pendawa sudah dewasa. Lama-kelamaan pihak Korawa merasa seperti kata peribahasa mengulum gula. Karena terasa manis, akhirnya merasa sayang untuk mengeluarkannya dan mulut. Hingga beberapa kali Pendawa meminta bagiannya, tetapi tidak berhasil.Karena Astina bertangguh tak berkesudahan, maka datanglah Sri Kresna untuk meminta dengan kekerasan, tetapi Astina tak mau berobah sikap dan dengan singkat mengatakan takkan mau melepaskan separo daripada negara Astina. Jawab ini disertai dengan mengadakan persiapan-persiapan untuk berperang. Setelah mengetahui sikap Astina itu, Pendawa pun bersiap-siap. Dan Pecahlah perang Baratayuda. Sebelum perang ini terjadi, para pemimpin
terus berusaha, jangan sampai perang terjadi, tetapi pihak Korawa tak mau mendengarkan dan tetap bersikeras. Datanglah Prabu Kresna ke Astina, dengan diiringi para Dewa untuk mendampaikan persengketaan. Tetapi mereka tak berdaya. Maka pecahlah perang dergan sedahsyat-dahsyatnya, ini adalah perang yang penghabisan antara Pendawa dan Korawa dan selesainya perang mi. Tamatlah cerita wayang Purwa untuk disambung dengan cerita Wayang Madya yang dimulai dengan Prabu Parikesit. Buku Sejarah Wayang Purwa ini hanya sedikit membicarakan tentang lakon wayang Madya. Setengah orang mengatakan, bahwa perang Baratayuda hanyalah perlambang kehidupan manusia, sesama seseorang sedang mengalami gelap di dalam pikiran, selagi terjadi pertentangan antara ketenangan dan amarah. Pada waktu dua orang sedang bertengkar, sering disebut juga sedang terjadi Baratayuda. Karena takutnya pada takhayul, kebanyakan orang tak berani menanggap wayang dengan memainkan lakon perang Baratayuda. Tetapi ada sebuah di daerah Klaten yang sewaktu mengadakan slametan bersih desa, justeru malahan menanggap wayang yang memainkan lakon perang Baratayuda.

No comments:

Post a Comment